Andai kau tahu betapa dalam rasa sayang ini
Andai kau tahu betapa besar cinta ini
Andai kau tahu betapa kumengharapmu
Mengharapkan cinta tulus darimu
Batinku tersiksa karena harus melihatmu dengannya
Ingin sekali kukatakan AKU SAYANG SAMA KAMU
Namun apalah dayaku
Sungguh aku tak punya nyali tuk katakan itu
Biarlah kata ini terpaku di bibirku
Entah sampai kapan aku tak tahu
Setelah menulis puisi itu, Mita segera menutup diarynya.Lalu menyimpannya di laci meja belajar. Pikirannya melayang….memikirkan sesosok laki-laki yang beberapa bulan ini telah mengisi relung hatinya. Pikirannya kacau tak bisa konsen belajar, padahal besok ada ulangan Fisika.
“Aku kenapa sih, kenapa aku harus jatuh cinta sama orang yang salah, kenapa harus dengan Dimas, pacar sahabatku sendiri…..” Mita menangis pelan meratapi apa yang dialaminya. Mita kembali berkonsentrasi, mencoba menghafal rumus-rumus Fisika yang membuatnya semakin pusing. Akan tetapi, tak beberapa lama Mita belajar ia sudah merasa mengantuk, ia tak mau memaksakan diri untuk terus belajar. Dengan langkah pelan ia mulai berjalan menuju kasur yang ada di samping rak buku. “Udah jam 10 malam.” Bisiknya.
Keesokan harinya, setelah sampai di ruang kelas, Mita segera meletakkan tas ranselnya di laci meja. Ia lalu mengambil buku paket Fisika mencoba mempelajarinya lagi. Karena jam pelajaran pertama ada ulangan Fisika. Wajahnya yang serius membuat Bery, teman sekelasnya heran. “Kenapa lo, tumben pagi-pagi udah pacaran ma buku….?” Mita melirik Bery tajam, ia tidak mau diganggu. Bery segera tahu maksud Mita.
“OK..sorry, eh….entar contekin gue ya..” Bery tersenyum,menggoda Mita. “Iiiih…..udah sana pergi udah tahu orang baru belajar malah digangguin!! Nyontekin lo…males, makanya belajar!!” Mita nyengir.
+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Hasil ulangan Fisika Mita tak begitu jelek yah…walaupun tidak bagus juga. Setelah bel tanda istirahat pertama berdentang Mita dan teman-teman sekelasnya berhamburan ke luar, ada yang menuju kantin, perpustakaan, ada pula yang hanya duduk-duduk di depan kelas sambil membicarkan masalah orang, alias bergosip. Mita sengaja bergabung dengan Ajeng dan teman-temannya yang sedang duduk-duduk di taman sekolah. Ia ingin sekali mengatakan sesuatu kepada sahabatnya, “Ajeng..aku mau ngomong sebentar nih….penting!!” Mita menatap Ajeng mununggu jawabannya. “Ya udah ngomong aja…” “Tapi enggak sekarang, ntar aku ke rumah kamu aja, gimana?” “OK…eh….lo mau ke mana gabung aja sama gue, gue kangen banget nih sama lo!” ‘Lain kali aja ya aku mau ke perpus dulu.” Mita berjalan meninggalkan Ajeng menuju perpus.
“Eh…Mita cari Ajeng ya? Tuh sudah ditunggu di kamar, langsung masuk aja. Kamu udah lama nggak main ke sini ya?” Sapa Tante Sofi padaku. “Iya tante, Mita ke kamar Ajeng dulu ya.” Aku menjawab seramah mungkin. Aku sebenarnya males datang ke rumah ini, apalagi masuk kamar tidur Ajeng yang memajang foto-foto mesranya dengan Dimas. Tapi apa boleh buat aku harus curhat karena aku pengen tahu gimana pendapatnya tentang masalah yang aku alami ini, tapi tentu saja bukan nama Dimas dan Ajeng yang aku sebut melainkan aku samarkan menjadi Andi dan Desi. Hah…ini dia kamarnya.
“Ajeng!!” Seruku sambil mengetok pintu, dengan cepat Ajeng membukanya. Ternyata dia sudah menantiku dari tadi. Sepanjang pembicaraan aku berusaha untuk tidak melihat foto-foto Ajeng yang berpelukan dan bermanja-manja dengan Dimas, karena itu bisa menusuk perasaanku.
“Oh..gitu ya masalahnya, emm….lebih baik lo langsung ngomong aja sama temen kakak lo itu…..bla..bla..bla” Ajeng berusaha memberiku saran, sebenarnya aku sempat tertawa dalam hati mendengar kata-katanya. Andai saja aku bisa mengungkapkan perasaanku ini sama kamu Jeng, mungkinkah kamu mau merelakan Dimas untukku???
“Trims ya…saran kamu pasti berguna buat aku, eh…salam ya buat Dimas. Bye….” Mita beranjak pulang. Ajeng tersenyum puas karena sudah merasa berhasil memecahkan masalah sahabatnya. Walaupun sebenarnya enggak sama sekali. Ajeng masuk kembali ke dalam rumah, hape-nya berdering. “Dimas.” Ucap Ajeng dengan nada senang, Ajeng lalu mengangkat telefon itu. “Hallo say…” Ucapnya mengawali pembicaraan.
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Mita sempat berteriak kegirangan saat mendapat sms dari Dimas waktu sarapan, dengan perasaan bahagia ia membuka sms itu.
Mit, ntr plng skul
gw tnggu di dpn skul u
Ajeng jgn smpe tau.OK
“Aduh…Dimas mau ngomongin apa ya jangan-jangan dia mau bilang kalau sebenarnya dia juga sayang sama aku dan setelah itu dia mau putusin Ajeng …..aduh aku harus dandan yang cantik nih, emm…nah bawa bedak sama lip gloss ah….” Mita memasukkannya ke dalam tas. Sebenarnya Mita jarang sekali dandan tapi dia tidak akan melewatkan kesempatan emas, mengobrol berdua saja dengan cowok yang didambanya.
+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
“Aduh..bentar lagi pulang jadi nggak sabar nih.” Mita tersenyum sendiri, menerka-nerka hal yang akan dibicarakan Dimas. Setelah bel pulang sekolah berdentang, Mita dengan cepat berjalan ke luar kelas menuju ke kamar mandi cewek yang letaknya cukup jauh dari kelas. Cukup lama juga Mita di kamar mandi, ia mematut diri di cermin westafel, mengusapkan bedak tipis ke wajahnya lalu memakai lipgloss warna pink setelah merasa puas, Mita kemudian berjalan ke depan sekolah menghampiri Dimas yang terlihat sedang duduk di atas motor sambil tersenyum ramah pada Mita.
“Hai Dim, sorry ya lama….emmm kamu mau ngomong apa?” Mita memasang wajah secantik mungkin, yah…siapa tahu Dimas beneran suka sama dia.
“Ah..gue juga baru nyampe kok, Ajeng nggak tahu kan?” Dimas menatap Mita dengan muka serius.
“Tenang aja Ajeng nggak tahu kok, seharian tadi aku emang nggak ketemu sama dia apalagi ngobrol, lagian dia juga udah pulang.” Mita meyakinkan Dimas.
Dimas lalu menyalakan motor dan memberikan helm pada Mita lalu menyuruhnya naik. Dengan senang hati Mita menerima ajakan Dimas. Dimas lalu memacu motornya dengan cepat, secara reflek Mita merangkulkan tangannya ke pinggang Dimas, Dimas tidak menolak. Butuh waktu cukup lama untuk sampai di tempat yang sudah di jelaskan Dimas sewaktu di perjalanan tadi. Mita diam, ia kagum dengan apa yang dilihatnya, pemandangan yang begitu menawan, burung-burung dengan bebas bisa berterbangan, angin berhembus sepoi-sepoi membuat rambut panjangnya yang terurai berhkibas tak teratur menambah suasana menjadi nyaman, di kanan kiri terdapat pohon-pohon besar yang membuat suasana alam makin terasa. Udara panas siang hari itupun tidak begitu terasa.
“Indah banget ya tempatnya?” Mita yang sedang menikmati pemandangan itupun dikagetkan dengan ucapan Dimas itu, Mita menganggukkan kepala.
“Iya bagus banget, aku nggak nyangka di Jakarta yang polusinya parah banget masih ada tempat yang… buat aku nih ajaib banget ada di Jakarta.” Dimas berdiri di samping Mita tersenyum kecil, Mita grogi jantungnya mulai berdetak tidak teratur, ia juga merasa jadi kaku saat melihat Dimas tersenyum sambil menatapnya.
“Kamu tau nggak alasan gue ngajak kesini?” Mita menggelengkan kepalanya pelan sambil berharap Dimas mengucapkan kalimat yang diharapkan Mita, yaitu memintanya jadi pacar.
“Karena, tempat ini nyimpan banyak banget kenangan gue sama Ajeng, eh…gue nyatain cinta sama dia juga di sini lho, tapi gue nggak pernah ngajak dia ke sini lagi setelah itu, maklum ketua OSIS sibuk banget, gue jadi kangen nih sama Ajeng…” Mita sangat kecewa mendengar ucapan Dimas itu karena berbeda sekali dengan yang diharapkan. Matanya berkaca-kaca, ingin rasanya ia lari secepat mungkin meningalkan tempat ini agar tidak mendengar cerita Dimas tentang Ajeng, tapi tubuhnya lemas tak sanggup tuk berlari. “Jadi….??” Tanya Mita pelan pada Dimas.
“Jadi…tempat ini pasti cocok banget buat berduaan sama Ajeng, saat ulang tahun Ajeng minggu depan…!! Menurut kamu….Ajeng bakalan suka nggak ya kalo gue ajak ke sini…???” Mita mengangguk pelan. Menangis dalam hati meratapi nasibnya kali ini.
+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
“Thanks ya kamu udah mau seharian nemenin gue jalan!”
“Iya,….emm…Dimas..!”
“Kenapa??” Tanya Dimas penasaran.
“Met malem ya…”
“Met malem juga…”
+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Kenapa sih…,aku jahat banget…kenapa harus Dimas orang yang aku sayang. Kalau begini kan aku yang terus-terusan makan hati sendiri. Aku nggak boleh begini terus, aku harus mulai belajar melupakan Dimas…iya, aku pasti bisa. Semangat..!!! Tapi….apa iya aku bisa….
“Mita..!!” Suara bunda terdengar sangat keras, sehingga membuyarkan lamunan Mita.
“Iya….ada apa sih bunda…?” Sahut Mita sambil membuka pintu kamarnya, di balik pintu terlihat raut wajah bunda yang kelihatan kesal.
“Kamu ini….tadi kan bunda suruh beli telur sama tepung ke minimarket sebelah kok masih di kamar tu bagaimana…bunda udah nungguin dari tadi tau..!!!” Ucap bunda yang kesal pada Mita.
“Aduh..!!! sorry bunda Mita lupa.” Sahut Mita sambil menepuk dahinya pelan, ia lalu bergegas pergi membeli pesanan bunda. Tak butuh waktu lama untuk Mita sampai ke mini market, karena hanya berjarak beberapa puluh meter dari rumahnya. Setelah membeli semua pesanan mama ia lalu melangkah ke luar dari mini market.
“Hai Mit!!!” sapa seorang cowok yang suaranya sudah tidak asing di telinga Mita.
“Prima?!?” Mita sedikit terkejut melihat sosok mantan pacarnya itu muncul di hadapannya.
Untuk beberapa waktu Mita terlihat asyik mengobrol dengan Prima, menanyakan kabar dan kegiatan dia sekarang, maklum setelah mereka beberapa bulan lalu putus hampir tidak ada komunikasi lagi. Mita yang ingat kalau bunda semenunggunya di rumah langsung mengajak Prima untuk berbincang di rumahnya saja. Namun dengan sopan dan sedikit bercanda Prima menolaknya.
“Tapi kapan-kapan kamu maen ke rumah ya…aku tunggu lho!!”
“Iya, tenang aja…tapi jangan lupa kalau aku maen ke rumah siapin makanan yang enak-enak.”
“Tenang aja…nanti aku siapin rumput yang banyak buat kamu, makanan kesukaan kamu masih rumput kan..??” Canda Mita.
“Ye…emang aku kambing apa makan rumput!!” Prima tidak terima.
“Udah ya, aku pulang dulu bye…” Mita meninggalkan Prima, ia berjalan cepat sekali takut kalau nanti dimarahin sama bunda lagi.
+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Fuih….untung saja bunda tadi nggak marah, emm….Prima kok bisa sampe sini ya? Apa mungkin dia nyariin aku? Ah…nggak mungkin, dulu kan dia yang mutusin aku. Nggak nyangka udah tiga bulan putus….huh, kira-kira dia udah punya cewek lagi nggak ya? Ah…ko gue mikir gitu sih, bodo amat bukan urusan gue lagi.
Hari ini Ajeng ulang tahun yang ke 17….sweet seventeen gitu lho…seharusnya aku bahagia karena sekarang hari ultah sahabat aku, tapi…mana mungkin bisa, sedangkan saat ini dia sedang asyik ngedate sama Dimas….ah, aku jadi ngebayangin seandainya saja aku itu Ajeng…pasti bakalan happy banget hari ini. Apalagi Dimas udah nyiapin surprise buat Ajeng…..ah, apaan sih mana mungkin itu bisa terjadi.
+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Senin…Selasa….Rabu…hari berlalu dengan cepat, begitu pula rasa sayang ini semakin mencekik dinding hatiku yang sensitive ini, aku tak tahu cara yang ampuh untuk menghalau rasa sayang yang tumbuh ini. Sungguh, aku selalu mencoba untuk menepis rasa ini, tapi aku manusia biasa yang nggak punya kemampuan untuk mencegah datangnya rasa sayang. Hubungan Ajeng dan Dimas semakin hari semakin mesra saja, hal ini semakin membuatku tersiksa dan tak kuasa menahan hatiku yang kacau…..entahlah, aku tak tahu harus bagaimana. Apalagi seseorang di masa laluku hadir lagi, iya…Prima pacar pertamaku itu tiba-tiba saja muncul lagi setelah beberapa bulan kami putus. Jujur, aku senang kalau Prima bisa hadir di kehidupanku lagi, merajut tali cinta yang dulu pernah terputus karena masalah jarak, aku di Jakarta dan dia di Bandung, tapi di sisi hatiku yang lain aku ingin Dimas, bukan Prima…….
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
“Mita…..” Ajeng mengelayuti pundakku, sepertinya ia mau bercerita tentang perjalananya hiking ke puncak kemarin sama Dimas dan teman-temannya, huh….aku nggak mau denger!!!!
“Tumben hari libur gini kamu maen ke rumahku biasanya udah kabur sama sayang kamu itu.” Biar saja aku sedikit menyindirnya, emang enak ndengerin curhatan orang terus.
“Aaaahh…..kok gitu sih, lo kan temen gue yang paling baik….eh, kemarin gue seneng…….banget!! Lo tahu nggak Dimas tuh bener-bener hero deh buat gue.” Iih….tu kan bener pasti soal Dimas, aku lihat wajah Ajeng memerah, pasti sedang mikirin Dimas, huh…sebel.
Berjam-jam aku mendengarkan cerita Ajeng….aku muak, aku iri sama dia, huh….kasihan banget sih aku ini. Jam makan siang telah tiba, aku mengajak Ajeng untuk makan siang di rumahku saja dia dengan wajah penuh kegembiraan mengangguk. Di meja makan sudah ada adikku, bunda dan ayah, mereka menyapa kami dengan ramah. Keluargaku memang keluarga yang harmonis. Kami makan siang dengan penuh riuh tawa, ayah memang senang sekali bercerita, dari cerita masa kecilnya sampai kejadian lucu di kantor. Walaupun ayah sering mengulang cerita-cerita itu tapi kami sekeluarga tidak pernah merasa bosan. Empat puluh lima menit berlalu, Ajeng yang sudah sedari pagi main ke rumah berpamitan pulang. Huh akhirnya, aku nggak mendengar cerita romantisnya dengan pangeran impianku lagi….paling tidak untuk hari ini.
+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
I Ingin sekali ku katakana aku suka padamu
Namun cinta ini siksa jika aku nggak ada kamu
Hendak jiwa kan mengikatmu di sisi
Namun berat tuk mengucap cukup untuk ku kagumi
ABCD ku harap kau mengerti
Semua ini bukan cerita narasi deskripsi
Hanya perasaan suka namun sulit hati berkata
Bukan fiktif sedikit naïf hanya sebuah realita
T_T……………………T_T…….…………..T_T
Beberapa bait lagu dari Bondan feat Fade 2 Black itu keluar dari bibir Mita dengan lancar, mungkin ia merasa kalau lagu ini memang diciptakan untuknya.
+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
“Ajeng, nanti kamu jadikan temenin aku beli sepatu?” Mita menghampiri Ajeng di kelasnya.
“Iya, jadi. Ntar gue juga mau lihat-lihat jam tangan yah..siapa tahu ada yang nyantol di hati.” Ajeng tersenyum, manis sekali.
“Eh, kemarin gue ngelihat Prima di warnet lho….cie…ehem…ehem!” Goda Ajeng pada Mita.
“Ah…udah basi tuh, dia emang udah lama tinggal lagi di Jakarta, lagian nggak ada hubungannya lagi ama aku.” Ucap Mita sambilmengibaskan tangan ke depan muka. Bel tanda masuk berbunyi, Mita kembali ke kelas. Pelajaran kali ini adalah Bahasa Indonesia, angina yang berhembus pelan membuat mata Mita menjadi berat. Beberapa kali ia menguap lebar. Ia memandangi seluruh kelas, terlihat beberapa anak cowok yang duduk di belakang sedang asyik mengukir mimpi di tidur siangnya, tidak sedikit juga anak-anak cewek yang mengobrol dan tak menggubris sama sekali ulasan dari Bu Tatik, guru Bahasa Indonesia yang sabar.
“Kasihan ya Da, bu guru kita ini…” Tanya Mita pada Ida, teman sebangkunya.
“Iya, tapi gue juga ngantuk nih…gue mau tidur, hehe…hehe!!”
“Yah, kalau gitu aku juga mau tidur, aku juga ngantuk banget!”
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Setelah pulang sekolah Mita dan Ajeng segera melesat ke salah satu mall yang terbesar di Jakarta. Tujuan pertama adalah mencari sepatu untuk Mita. Mita terlihat sibuk melihat dan sesekali mencoba sepatu sport yang menarik hatinya. Sedangkan Ajeng sedari tadi sibuk ber-sms dengan Dimas.
“Ajeng, menurut kamu ini pantes nggak buat aku??” Mita mengenakan sepatu sport warna merah marun. Ajeng mengamati dengan serius.
“Bagus…ini aja Mit, pantes kok buat lo!” Ajeng melihat Mita tersenyum puas. Setelah Mita membayar ke kasir, mereka kemudian berkeliling mall tanpa tujuan. Setelah merasa kakinya pegal dan tenggorokannya kering, Mita mengajak Ajeng untuk membeli minuman. Merekapun duduk di kursi paling belakang.
“Hoi….!!!” Teriakan itu membuat Mita dan Ajeng tersentak kaget. Mereka lalu menoleh…
“Prima!!!” Seru mereka hampir bersamaan. Ajeng menatap wajah Mita, ia tersenyum menggoda, Mita nyengir, cuek.
“Hai Prima…apa kabar lo…” Ajeng mengawali pembicaraan.
“Ya, gini deh…kabar emang baik tapi hati lagi nggak baik, gue jomblo jadi nggak ada yang bikin gue semangat.” Prima duduk di kursi persis di samping Mita. “Ih….terus terang banget nih orang bener-bener nggak berubah!!” ucap Mita dalam hati.
“Kok nggak balikan aja sama yang di samping kamu itu..” Ajeng melirik Mita.
“Idih…apaan sih..!” Mita kesal mendengar ucapan Ajeng yang menyindirnya. Mereka bertiga terlihat asyik mengobrol. Setelah hari menjelang sore mereka memutuskan untuk kembali ke rumah.
+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Sejak kejadian itu Mita sering curhat dengan Prima tentang perasaannya saat ini dengan Dimas. Karena Mita merasa sangat nyaman kalau curhat dengan mantan pacarnya itu. Ia tidak malu dan tidak menutup-nutupi perasaannya, semua diluapkan pada Prima. Prima selalu memberi semangat dan berbagai macam cara untuk menyingkirkan nama Dimas di hati Mita. Tapi nggak ada hasilnya. Sore ini mereka janji akan bertemu di taman kota.
“Prima, aku bener-bener nggak tahu harus ngelakuin apa sekarang…..aku nggak bisa kayak gini terus aku capek…….aku udah nggak punya tenaga lagi untuk memendam perasaanku sama Dimas…” Mita menangis tersedu, mengadu pada Prima berharap ia bisa menolongnya dan memberi solusi terbaik.
“Mita, aku tahu perasaan kamu saat ini tuh sakit…jujur ya, aku nggak nyangka kalau kamu ngalamin hal kayak gini. Perasaan sayang kamu itu nggak boleh terus-terusan dipendam…”
“Maksud kamu apa…??” Mita tidak mengerti maksud Prima.
“Iya…kamu harus ngomong jujur sama Ajeng sama Dimas juga…kalau kamu kayak gini terus kamu nggak bakalan bisa menikmati hidup.”
“Itu nggak mungkin Prim, aku nggak mau kehilangan Ajeng…dia sahabat aku….aku….nggak mungkin bisa terus terang tentang ini..”
“Nggak Mit, inget ya…kalau pun kamu nggak ngomong pelan-pelan semuanya pasti terbongkar dan saat itu juga kamu bakalan kehilangan dua orang sekaligus…yaitu Ajeng dan Dimas…kamu harus bisa, aku selalu ada buat kamu..aku selalu ada buat kasih semangat..OK!!”
Untuk beberapa saat mereka berdua tak bersuara.
“OK…aku akan ngomong sama Dimas dan Ajeng, aku akan jujur…aku nggak mau terus-terusan menyerah sama nasib, mungkin Dimas nggak bisa jadi milikku…yah…seenggaknya aku sudah punya nyali untuk ngomong jujur sama dia. Prima, thanks banget ya, kamu selama ini selalu menyemangati aku…kamu memang mantan pacarku yang paling baik…!” Mita tersenyum menahan perih, Prima berusaha menghibur Mita.
+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Hari ini tepat satu minggu saat aku memutuskan untuk jujur, ngomong yang sebenarnya pada Ajeng dan Prima. Huh….aku benar-benar tidak pernah seyakin ini. Kemarin aku sudah mengajak mereka untuk menikmati masakan di restoran kecil milik tanteku yang baru dibuka. Mungkin sebentar lagi mereka datang…..dan benar mereka dating bergandengan mesra sekali, ya sudahlah…aku nggak berhak untuk cemburu dengan kemesraan yang mereka tunjukkan. Aku lalu menyuruh mereka duduk, tak beberapa lama pesanan kami datang.
“Jadi ini mini resto tante lo Mit, tempatnya nyaman banget lho…pasti bakalan rame deh.” Ajeng memberi pujian pada mini resto tanteku ini.
“Katanya kamu mau ngomong sama kita…ngomong apaan sih Mit..??” Dimas menatapku dengan penuh tanda tanya. Aku menarik nafas panjang, mengumpulkan seluruh keberanian dari dalam jiwaku aku mencoba membuang semua perasaan takut dan malu yang selama ini bersang erat di jiwa.
“Gini Dim…Ajeng, sebenarnya pengen banget dari dulu aku berani ngomong kayak gini….aku harap kalian nggak kaget mendengar pengakuanku ini!!” Ajeng dan Dimas diam, berharap aku segera melanjutkan perkataanku tadi.
“Sebenarnya ….huh….aku…aku…pengen terus terang tentang perasaanku ini, perasaan yang selalu menghantuiku, yang membuat hidupku kacau…mebuat perasaanku sesak….. Terserah kalian mau marah…atau nggak mau nganggep aku sebagai teman lagi setelah mendengar pengakuanku ini.” Aku menghentikan sejenak pembicaraanku, air mata sudah menetes deras di pipiku.
“Ajeng, aku udah temenan lama banget sama kamu, bagi aku kamu sudah aku anggap saudara aku sayang banget sama kamu, huuh…Dimas kamu tahu nggak bagi aku kamu adalah pangeran impianku, aku nggaktahu kenapa akhir-akhir ini kamu selalu muncul di mimpiku, kata-kata kamu selalu terngiang jelas di telingaku…..dan…..aku…ngerasa sakit saat kamu dan Ajeng sedang pacaran atau sekedar ngobrol biasa.”
“Maksud kamu apa sih Mit???” Ajeng memotong pembicaraanku.
“Maksudku….aku….sayang….sayang banget sama Dimas, aku tahu aku salah…aku tahu aku nggak pantes ngomong kayak gini sama kalian, tapi hatiku sakit banget….dadaku sesak kalau aku nggak ngomong. Aku berani jujur sama kalian karena rasa sayang…rasa cinta yang terpendam di dalam hati dan tak pernah terucap jauh lebih sakit daripada cinta kita ditolak….Aku nggak mau ngerebut Dimas….Jeng, aku tahu kalian saling sayang, aku cuma pengen kalian tahu perasaan aku aja sungguh….” Bibirku sudah tak bisa lagi ku gerakkan saat ini hanya buliran bening saja yang menjadi ungkapan perasaanku. Aku nggak berani menatap Dimas dan Ajeng aku tahu mereka pasti benci banget sama aku. Tiba-tiba Ajeng memelukku erat sekali, pelukan itu membuat air mataku semakin deras mengucur.
“Kenapa….?? Kenapa…Mit, lo jahat banget sama gue…lo jahat banget bikin gue ngelukain hati lo terus, lo tahu nggak….buat gue lo lebih penting dari siapapun…jauh lebih penting dari Dimas……gue benci sama lo…gue benci lo buat gue jadi duri yang terus menusuk hati lo….” Ajeng menangis….dia menyalahkanku karena aku ngebuat dia melukai hatiku….ah…aku lega sekarang, Ajeng dan Dimas tidak marah padaku, mereka janji akan menjaga perasaanku. Iya…ini Mita yang baru Mita yang penuh semangat dan berani berterus terang. Aku lega…aku bahagia Prima memberiku semangat….makasih Prima….semoga kamu bisa terus ngasih semangat buat aku….
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++